Entri Populer

Jumat, 01 Maret 2013

SDN MOJOPUROWETAN MENUJU ADIWIYATA

-->
Program Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Negara Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak lingkingan yang negatif.
Dalam pelaksanaannya Kementrian Negara Lingkungan Hidup bekerjasama dengan para stakeholder, menggulirkan Program Adiwiyata ini dengan harapan dapat mengajak warga sekolah.
Kata ADIWIYATA berasal dari 2 kata Sansekerta “ADI” dan “WIYATA”. “ADI” mempunyai ,makna : besar, agung, baik, ideal atau sempurna. WIYATA mempunyai makna : tempat dimana seseorang mendapat ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Jadi, ADIWIYATA mempunyai pengertian atau makna : Tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.
Terdapat empat proses tahapan dalam menuju sekolah Adiwiyata, yakni :
1. PRA – ADIWIYATA
2. ADIWIYATA
3. PENGEMBANGAN ADIWIYATA
4. ADIWIYATA MANDIRI
KEBIJAKAN  SEKOLAH
* Filosofi : “BERTINDAK SEKARANG SEJAHTERA HARI ESOK”
* Visi dan Misi
* Pengembangan  Pembelajaran LH
* Peningkatan  SDM
* Penghematan  SDA
* Peraturan Sekolah LSS
* Alokasi  Dana  untuk  lingkungan
* Kebijakan  pendukung  lain
KURIKULUM BERBASIS LINGKUNGAN
* Model  Pembelajaran  Lintas  Matpel
* Materi  Persoalan  LH  yang  ada di sekitar
* Studi  lapangan  berbasis lingkungan  (aspek sosial, ekonomi)
* Kegiatan kurikuler untuk  pengembangan kesadaran  siswa  pada  lingkungan
KEGIATAN PARTISIPATIF
* Ekstrakurikuler  berbasis  partisipatif
* Mengikuti  aksi  lingkungan
* Membangun  kemitraan
PENGELOLAAN SARANA PENDUKUNG
* Pengembangan  fungsi  kualitas  sarana  sekolah  untuk  PLH
* Peningkatan  kualitas  pengelolaan  lingkungan di sekolah  dan di luar sekolah
* Penghematan SD air,  listrik,  ATK, bahan
* Kualitas  pelayanan  kantin  sekolah
* Pengembangan  sistem  pengumpulan   sampah
PENGEMBANGAN  ADIWIYATA
· Sosialisasi  ke  Masyarakat  Sekitar  Tentang  Fungsi  Tanaman  Obat  Untuk mendukung perekonomian  Masyarakat
· Pengolahan  Produk  Olahan  Mangrove  Sebagai  Bekal  Untuk  Hidup  Mandiri  dan  Menarik  Minat  Masyarakat  Untuk  Mengupayakan  Pelestarian  Pantai
· Pengimplementasian  Materi  PLH  ke  Masyarakat  Melalui  Kegiatan  GUGUR  GUNUNG (BEDHOL SEKOLAH) ke  Desa-desa  Pilihan
· Pembudidayaan  Tanaman  Obat
· Promosi  Sekolah

PRAMUKA SDN MOJOPUROWETAN

Satya kudharmakan dharma ku baktikan!, mungkin inilah semangat yang ada dalam asiswa siswi SN Mojopurowetan. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan sangat penting baik itu formal maupun informal dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan perkembangan Ilmu dan Teknologi di segala bidang menuntut kreativitas siswa yang berkualitas melalui pendidikan di sekolah baik itu ekstrakurikuler contohnya dalam kegiatan pramuka.

Pendidikan gerakan pramuka yang dilakukan di  SDN Mojopurowetan  Bungah Gresik dalam rangka pembinaan kreativitas dan kepemimpinan anggota Pramuka dilaksanakan secara terus menerus setiap hari Jum'at.

Adapun kegiatan Pramuka yang dilaksanakan diantaranya :
a.       Keterampilan
-          morse
-          peta perjalanan
-          sandi
-          perkemahan
-          masakan darurat
 b.   Ketangkasan
-          menyambung tali
-          menali kayu ulat
-          menaiki tangga
-          mendaki dan menuruni tebing
c.       Kesenian / kebudayaan / olahraga
      -    melukis
      -    cerdas cermat
      -    volley ball
d.       Keagamaan
      -    M. T. Q
      -   Sholat berjamaah
e.       Bakti masyarakat
-    penghijauan
-    gotong royong

Sabtu, 05 Januari 2013

Pendekatan Tematik Integratif untuk Kurikulum 2013

Pramuka Menjadi Ekstrakurikuler SD-SMP-SMA/SMK

Foto
Wapres Boediono berbincang dengan Mendikbud M. Nuh
dalam rapat pengembangan kurikulum 2013 (foto: Muchlis).
Jakarta. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah melakukan pengembangan kurikulum Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pengembangan kurikulum ini diharapkan siap menjelang dimulainya tahun ajaran 2013 mendatang dengan pendekatan tematik yang terintegrasi di setiap mata pelajaran. "Kita sepakat saja bahwa Juni 2013 akan menjadi momen baru kita menyiapkan anak-anak kita untuk masa depan dengan cara yang baru," kata Wakil Presiden Boediono yang memimpin rapat koordinasi mengenai pengembangan kurikulum di kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, 13 November 2012.

Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, Wakil Menteri Pendidikan Musliar Kasim, Wakil Menteri Kebudayaan Wiendu Nuryanti serta para pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Turut hadir pula sejumlah tokoh yang menjadi bagian dari tim teknis antara lain mantan Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, budayawan Goenawan Mohamad, Ratna Megawangi dari Indonesia Heritage Foundation, tokoh sains Yohannes Surya dan pemerhati pendidikan Darmaningtyas.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh memberikan presentasi lebih dari satu jam tentang progres pengembangan kurikulum 2013 antara lain tentang filosofi dasar serta tujuan yang ingin dicapai. Dipaparkan pula sejumlah perbandingan antara kurikulum 2006 dan pengembangan kurikulum 2013 yang sedang dipersiapkan.
Salah satu ciri kurikulum 2013 untuk SD adalah dimana mata pelajaran IPA dan IPS akan menjadi materi pembahasan di semua mata pelajaran. Prosesnya, tema-tema yang ada di dua mata pelajaran itu diintegrasikan kepada enam mata pelajaran yang akan menjadi muatan pelajaran SD, yakni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Olahraga-Kesehatan serta Seni-Budaya.Misalnya pelajaran tentang sungai yang bisa menjadi bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia dan Agama. Sedangkan materi IPS bisa meluruh ke dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan juga Bahasa Indonesia. Di tingkat SD, jam pelajaran akan ditambah sebanyak empat jam seminggu.

Dalam kesempatan itu Wapres Boediono memuji progres yang dicapai oleh tim teknis. Ia menyampaikan apresiasinya kepada tim teknis, para pendamping dan para narasumber yang menjadi bagian dari pengembangan kurikulum 2013 ini. Ia yakin bahwa tim teknis didukung oleh tokoh-tokoh dan narasumber yang tepat untuk memberikan masukan substantif.
"Kita harus menyiapkan generasi muda dari sikap, keterampilan, kemampuan berpikir dan pengetahuan yang jauh lebih baik dari kita. Saya sangat berminat untuk melakukan perubahan ini secepat mungkin. Kalau bagi saya, jadikan saja Juni 2013 sebagai pegangan," kata Wapres mengulangi pesannya.

"Momentum perubahan ini jangan dilewatkan dimana Presiden, Wapres dan para menteri semuanya sepakat memberi perhatian pada pendidikan dan materi pengajaran bagi anak-anak kita," kata Wapres. Ia kemudian meminta agar pekerjaan besar mengembangkan kurikulum baru ini dilanjutkan tanpa berlarut-larut mengingat mata rantai pekerjaan berikutnya masih panjang. Banyak hal yang harus diterjemahkan dengan lebih kongkret seperti menyiapkan bahan pengajaran untuk masing-masing tingkat dan lain sebagainya. Wapres juga menekankan bahwa pengembangan kurikulum 2013 menuntut perbaikan kualitas guru secara menyeluruh di tanah air.

Selain itu, Wapres Boediono juga menyetujui kegiatan Pramuka dijadikan sebagai ekstrakurikuler bagi SD-SMP-SMA/SMK. "Jadi bukan hanya pembimbing dari masing-masing sekolah, tapi juga harus ada insentif yang pas untuk pembimbing. Kegiatan kepramukaan ini harus diberi pedoman yang jelas dan saya harapkan mulai 2013 sudah berjalan," kata Wapres.

Dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, saat ini progres pengembangan kurikulum baru mencapai SD-SMP-SMA/SMK, sedangkan untuk Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Aliyah akan segera menyusul. Perwakilan dari Kementerian Agama mengatakan sudah siap melakukan penyesuaian. Mengenai ekstrakurikuler Pramuka, Mendikbud menambahkan bahwa hal itu memiliki dasar hukum yang jelas yakni UU no. 12/2010 tentang Gerakan Pramuka.

Dalam presentasinya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa efektivitas pembelajaran yang diharapkan dari pengembangan kurikulum 2013 adalah transformasi nilai, dimulai dengan efektivitas interaksi antara guru dan murid sehingga dapat meningkatkan pemahaman sang murid. Dalam kurikulum 2013 mendatang, akan didorong pendekatan pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui observasi, asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengkomunikasikan.

Selengkapnya baca Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: "Pengembangan Kurikulum 2013, Menuju Tercapainya Kompetensi yang Berimbang" di Ruang Media (Konferensi Pers)

GURU, ELEMEN YANG TERLUPAKAN

Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.

Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.

Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.

Selasa, 10 April 2012

Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini

Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam Mappa (1994: 12) pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah, dibenarkan atau dikendalikan. Sementara itu Abdulhak (2000: 25) menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah, dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan.
Anak-anak usia dini dapat saja diberikan materi pelajaran, diajari membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan bukan hanya itu saja, mereka bisa saja diajari tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Jerome Bruner menyatakan, setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain (Supriadi, 2002: 40). Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain, dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak.
Supriadi (2002: 40) menjelaskan bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Menurut Conny R. Semiawan (Jalal, 2002: 16) melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Melalui permainan, anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Oleh karena itu, bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek.
Konsep Kreativitas
Supriadi (2001: 7) menyimpulkan bahwa pada intinya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Keberhasilan kreativitas menurut Amabile (Munandar, 2004: 77) adalah persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dan bekerja kreatif, dan motivasi intrinsik.
Ciri-ciri kreativitas dapat ditinjau dari dua aspek yaitu:
  1. Aspek Kognitif. Ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif//divergen (ciri-ciri aptitude) yaitu: 1) keterampilan berpikir lancar (fluency); (2) keterampilan berpikir luwes/fleksibel (flexibility); (3) keterampilan berpikir orisinal (originality); (4) keterampilan memperinci (elaboration); dan (5) keterampilan menilai (evaluation). Makin kreatif seseorang, ciri-ciri tersebut makin dimiliki. (Williams dalam Munandar, 1999: 88)
  2. Aspek Afektif. Ciri-ciri kreativitas yang lebih berkaitan dengan sikap dan perasaan seseorang (ciri-ciri non-aptitude) yaitu: (a) rasa ingin tahu; (b) bersifat imajinatif/fantasi; (c) merasa tertantang oleh kemajemukan; (d) sifat berani mengambil resiko; (e) sifat menghargai; (f) percaya diri; (g) keterbukaan terhadap pengalaman baru; dan (h) menonjol dalam salah satu bidang seni (Williams & Munandar, 1999).
Torrance dalam Supriadi (Adhipura, 2001: 47) mengemukakan tentang lima bentuk interaksi guru dan siswa di kelas yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan kreatif siswa, yaitu: (1) menghormati pertanyaan yang tidak biasa; (2) menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa; (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri; (4) memberi penghargaan kepada siswa; dan (5) meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana penilaian.
Hurlock pun (1999: 11) mengemukakan beberapa faktor pendorong yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu: (1) waktu, (2) kesempatan menyendiri, (3) dorongan, (4) sarana, (5) lingkungan yang merangsang, (6) hubungan anak-orangtua yang tidak posesif, (7) cara mendidik anak, (8) kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.
Amabile (Munandar, 2004: 223) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan kreativitas yaitu evaluasi, hadiah, persaingan/kompetisi antara anak, dan lingkungan yang membatasi. Sementara menurut Torrance dalam Arieti yaitu: (1) usaha terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi; (2) pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak; (3) terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual; (4) terlalu banyak melarang; (5) takut dan malu; (6) penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu; dan (7) memberikan kritik yang bersifat destruktif (Adhipura, 2001: 46).
Pustaka
  • Abdulhak, I. (2000). Metodologi Pembelajaran Orang Dewasa. Bandung: Andira.
  • Adhipura, A. A. N. (2001). Pengembangan Model Layanan Bimbingan Berbasis Nilai Budaya Lokal untuk Meningkatkan Kreativitas Anak. Tesis Magister pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.
  • Direktorat Tenaga Teknis. (2003). Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0 – 6 Tahun. Jakarta: Ditjen PLSP – Depdiknas.
  • Hawadi, R. A. (2001). Psikologi Perkembangan Anak. Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak. Jakarta: PT Grasindo.
  • Hurlock, E.B. (1991). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
  • Jalal, F. (2002). “Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Akan Pentingnya PADU”. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. 9 – 18.
  • _______ (2003). “Perluasan Layanan Pendidikan Anak Usia Dini”. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. 9 – 18.
  • Mappa, S. & Basleman, A. (1994). Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Depdikbud.
  • Moleong, L. J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Mulyasa, E. (2005). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Munandar, S.C.U. (1982). Pemanduan Anak Berbakat Suatu Studi Penjajakan. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali
  • __________ (1999). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah Petunjuk bagi Orangtua dan Guru. Jakarta: PT. Grasindo
  • __________ (2004). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta.
  • Nasution, S. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: PT. Tarsito.
  • Patmonodewo, S. (2003). Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  • Supriadi, D. (2001). Kreativitas Kebudayaan & Perkembangan Iptek. Bandung: Alfabeta.
  • __________ (2002). “Memetakan Kembali Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Anak Dini Usia”. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. 36 – 42.

Jean Piaget

Jean Piaget dilahirkan di NeuchŸtel (Switzerland) pada tanggal 9 Agustus 1896. Dia meninggal di Geneva pada tanggal 16 September, 1980. Dia adalah anak tertua dari pasangan suami istri Arthur Piaget, seorang profesor Kesusastraan abad pertengahan dan Rebecca Jackson. Pada usia yang masih dibilang kecil pada saat itu yakni 11 tahun di NeuchŸtel Latin high school, dia menulis suatu ulasan tentang albino sparrow. Paper singkat ini mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak dan dianggap sebagai permulaan karir ilmiah yang brilian dari seseorang yang telah menulis lebih dari enam puluh buku dan beberapa ratus artikel.Piaget telah diberi gelar sebagai seorang interaktionis sekaligus sebagai seorang konstruktivis. Ketertarikannya dengan prinsip pengembangan kognisi yang diangkat dari hasil perlakuan melalui training pada ilmu alam dan konsep epistimologi telah mengangkat dirinya menjadi ilmuan sejati. Dia sangat tertarik dengan pengetahuan tentang bagaimana anak-anak hadir untuk mengetahui dunia mereka. Dia mengembangkan teori kognitif dengan betul-betul mengamati perkembangan kognisi anak-anak (beberapa di antara anak tersebut adalah anaknya sendiri). Dengan menggunakan standar pertanyaan sebagai titik awal, dia mencoba mengikuti jalan pikiran anak-anak melalui training dan membuat pertanyaan-pertanyaan yang lebih fleksibel.Piaget percaya bahwa jawaban dan komentar anak-anak yang sifatnya spontan memberikan tanda untuk memahami jalan pikiran mereka.Dia malah tidak tertarik dengan mengkaji jawaban benar-salah yang diberikan oleh anak-anak, tetapi bentuk-bentuk logika dan alasan yang digunakan dalam memberikan komentar itulah yang menjadi perhatian khusus. Setelah bertahun-tahun melakukan observasi, Piaget menyimpulkan bahwa perkembangan intelektual anak adalah hasil interaksi antara faktor bawaan sejak lahir dengan lingkungan di mana anak-anak itu berkembang. Anak-anak dapat berkembang secara konstan melalui interaksi dengan lingkungan di sekitar mereka sehingga pengetahuan dapat dibangun dan dikonstruksi kembali.Teori Piaget tentang perkembangan intelektual merupakan dasar dalam ilmu biologi. Ginn (2008) mengatakan bahwa Piaget melihat pertumbuhan kognitif sebagai suatu ekstensi dari pertumbuhan biologis dan diolah melalui prinsip-prinsip dan hukum yang sama. Piaget juga memandang bahwa perkembangan intelektual mengontrol setiap perkembangan aspek lain seperti emosi, sosial, dan moral.Pandangan Jean Piaget tentang Pengembangan IntelektualUntuk dapat memahami bagaimana pandangan Piaget tentang pengembangan intektual, berikut ini akan dijelaskan dua kategori (1), tahapan-tahapan perkembangan intelektual dan (2) bagaimana cara anak itu belajar mengkonstruksi pengetahuan.
  1. Tahapan-tahapan Perkembangan IntelektualPiaget telah terkenal dengan teorinya mengenai tahapan dalam perkembangan kognisi. Piaget menemukan bahwa anak-anak berpikir dan beralasan secara berbeda pada periode yang berbeda dalam kehidupan mereka. Dia percaya bahwa semua anak secara kualitatif melewati empat tahap perkembangan seperti umur 0 - 2 tahun adalah tahapan pengembangan sensory-motor stage, tahap perkembangan sensori motor, umur 2 sampai 7 tahun adalah tahapan preoperational stage, umur 7 - 11 tahun adalah tahap concrete operation (Marxists, Setiap tahap mempunyai tugas kognitif yang harus diselesaikan. Pada tahap sensori motor, susunan mental anak hanya dapat menerima dan menguasai objek yang kongkrit. Penguasaan terhadap simbol terjagi hingga anak itu berada pada tingkat preoperational. Sedangkan pada tahap konkrit, anak-anak belajar menguasai pengelompokkan, hubungan, angka-angka, dan alasan dari mana semuanya itu diperoleh. Tahap terakhir adalah tahap penguasaan pikiran (Evans, 1973).
  2. Bagaimana Anak itu BelajarSuatu komponen terpenting dalam teori perkembangan intektual Piaget adalah melibatkan partisipasi murid. Artinya bagaimana murid mempelajari sesuatu sekaligus mengalami sesuatu yang dipelajari tersebut melalui lingkungan. Pengetahuan bukan semata-mata berarti memindahkan secara verbal, melainkan harus dikonstruksi dan bahkan direkonstruksi oleh murid. Piaget menyatakan bahwa anak-anak yang ingin mengetahui dan mengkonstruksi pengetahuan tentang objek di dunia, mereka mengalami dan melakukan tindakan tentang objek yang diketahuinya dan mengkonstruksi objek itu berdasarkan pemahaman mereka. Karena pengertian mereka terhadap objek itu dapat mengatur realitas dan tindakan mereka. Murid harus aktif, dalam pengertian bahwa murid bukanlah suatu bejana yang harus diisi penuh dengan fakta. Pendekatan belajar Piaget merupakan pendekatan kesiapan. Pendekatan kesiapan dalam psikologi perkembangan menekankan bahwa anak-anak tidak dapat belajar sesuatu sampai kematangan memberikan kepada mereka prasyarat-prasyarat.
Kemampuan untuk mempelajari konten kognisi selalu berhubungan dengan tahapan dalam perkembangan intelektual mereka. Dengan demikian, anak yang berada pada tahapan dan kelompok umur tertentu tidak dapat diajarkan materi pelajaran yang lebih tinggi dari pada kemampuan umur anak itu sendiri. Pertumbuhan intelektual melibatkan tiga proses fundamental; asimilasi, akomodasi, dan aquilibrasi (penyeimbangan). Asimilasi melibatkan penggabungan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.Akomodasi berarti perubahan struktur pengetahuan yang sudah ada sebelumnya untuk mengakomodasi hadirnya informasi baru. Penyatuan dua proses asimilasi dan akomodasi inilah yang membuat anak dapat membentuk schema. Seperti yang dipahami dalam teori schema, istilah schema (tunggal) merujuk pada representasi pengetahuan umum. Sedangkan jamaknya schemata tertanam dalam suatu komponen atau ciri ke komponen lain pada tingkat abstraksi yang berbeda. Hubungannya lebih mendekati kemiripan dalam web dari pada hubungan hirarki. Artinya, setiap satu komponen dihubungkan dengan komponen-komponen lainLebih jauh, yang dimaksud dengan equilibration adalah keseimbangan antara pribadi seseorang dengan lingkungannya atau antara asimilasi dan akomodasi. Ketika seorang anak melakukan pengalaman baru, ketidakseimbangan hampir mengiringi anak itu sampai dia mampu melakukan asimilasi atau akomodasi terhadap informasi baru yang pada akhirnya mampu mencapai keseimbangan (equilibrium). Ada beberapa macam equilibrium antara asimilasi dan akomodasi yang berbeda menurut tingkat perkembangan dan perbagai persoalan yang diselesaikan. Bagi Piaget, equilibrasi adalah faktor utama dalam menjelaskan mengapa beberapa anak inteligensi logisnya berkembang lebih cepat dari pada anak yang lainnya

JUJUR DI BANGKU PENDIDIKAN, MODAL MASA DEPAN

Seiring perkembangan jaman tak dapat disangkali kenyataan membuktikan bahwa telah terjadi pula kemerosotan moral dalam memaknai kejujuran di berbagai aspek kehidupan terlebih lagi pada basis peletak dasar pembentukan moral yakni aspek pendidikan. Sehingga muncul pula semacam stigma khusus yang menjalar kian cepatnya, yakni terkait sulitnya melahirkan pendidikan berkualitas di negeri ini. Pengalaman membuktikan bahwa jujur pada diri sendiri di kalangan generasi muda bangsa masa kini terhadap sejauhmana kemampuan pribadinya, menghasilkan sesuatu yang berkualitas bagi dirinya dan bangsa bukan kepalsuan atau tembaga tersepuh emas, dianggap menjadi sesuatu yang mahal dan langka. Sedang sangat diharapkan dari proses pendidikan sebenarnya adalah rangkaian proses menghadirkan dan membangun kemandirian bukan proses menghadirkan dan membangun pribadi yang tak mampu mandiri dengan sejumlah mental tak terpuji yakni dengan sejumlah contekan dan selembaran kecil kertas yang terancang khusus untuk menolong dirinya menyelesaikan soal-soal yang diberikan baginya dalam sebuah ujian pada jenjang pendidikan apapun. Muncul pertanyaan apakah ini? yang diharapkan dari generasi masa kini untuk menjadi kader/kader dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa? Hal ini patut digaris bawahi oleh kalangan pendidik dan para pemerhati baik dari pendidikan terendah hingga pendidikan tertinggi sekalipun.
Penting pula diketahui bahwa tradisi tak terpuji yang terlahir dari pendidikan dasar dan terbawa hingga pada jenjang pendidikan tinggi tersebut, sangat-sangatlah mencemaskan nasib generasi penerus cita-cita bangsa dimasa akan datang, mengapa secara lantang boleh saya katakan demikian, karena berbagai kenyataan membuktikan bahwa perbuatan tak terpuji yang kecil seperti dimaksud terlihat dapat saja menjadi bom waktu di masa akan datang terkait tindakan menghancurkan bangsa ini secara perlahan untuk persoalan kualifikasi tak seimbang dengan bukti otententik bobot selembar bukti kelulusan sebagai kertas tertulis tak mampu terbuktikan. Hal ini tercipta karena ketidakmampuan kalangan pendidikan tanah air untuk berani berbenah diri memecahkan persoalan ini dengan metode dan pola-pola pendidikan akurat bertanggungjawab untuk menghasilkan generasi terdidik di negara ini, yang benar-benar mandiri dan percaya pada kemampuan dan kualitas dirinya sehingga mampu serta siap berkompetisi dalam menciptakan sesuatu yang berkualitas bagi bangsa dan negara dikemudian hari.
Kalau demikian muncul pertanyaan kapankah negara kita bisa mandiri sedang di balik semua harapan masih banyak kenyataan aktivitas tak terpuji dimaksud masih menjadi virus tak terdeteksi dari ouput pendidikan masa kini, padahal tidak seharusnya hadir dan bahkan menjamur dengan begitu meluas. Selembar ijazah sebagai Bukti kelulusan saat ini hanyalah bahan pegangan dalam menghadirkan sebuah masa depan menjanjikan, yang pada kenyataannya setelah tiba dalam dunia kerja kelak hal seperti dimaksud sangat tidak diharapkan. Yang sangat diharapkan sebenarnya adalah bagaimana kemampuan secara personal dalam mengembangkan diri secara professional dan bertanggungjawab untuk sebuah beban kerja teremban di pundaknya, bukan sekedar asal ada bentuknya atau asal jadi tanpa bobot tertentu guna kontribusi bagi kemajuan bangsa. Kenyataan ini yang mungkinnya dalam kacamata pribadi saya sebagai pribadi yang sementara dalam proses menjalani pendidikan lanjut dan sudah bekerja pada salah satu institusi pemerintah, merasa kondisi ini menampakkan sesuatu yang dapat saja memposisikan negara dan bangsa untuk sulit keluar dari kemerosotan moral bangsa, lebih-lebih moralitas dalam bekerja. Sehingga tak dapat dipungkiri jika banyak penyimpangan karena kurangnya professional oknum atau pribadi yang dipercayakan untuk melaksanakan tugas dimaksud yang adalah akibat bawaan semasa pendidikannya. Yang pada gilirannya banyak generasi masa kini kelak dalam mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara bukan untuk sebuah ketulusan pengabdian akan tetapi kemerosotan moral semasa pendidikannya yang lebih bahkan kondisi dimaksud lebih menjadi-jadi untuk melakukan hal-hal tidak terpuji dalam skala yang lebih besar lagi. Sehingga kerugian bagi negara di sana-sini terjadi dan sulit dibendung lagi. Padahal menurut hemat saya titik kunci atau akar permasalahannya hanya pada bagaimana pendidikan memposisikan eksistensinya secara tetap dan terarah, sehingga mampu menciptakan kader-kader penerus cita-cita perjuangan bangsa bertanggung jawab dan jujur bukan sekedar memikul gelar tanpa punya kualitas, kalaupun punya kualitas, kualitas dimaksud hanya sekedar slogan terpampang di bibir, tapi lain di hati, dengan kata lain terselubung hal-hal yang sebenarnya dapat merugikan bangsa dan negara kini dan masa akan datang, alias bermotivasikan sesuatu yang tidak bermuara pada unjuk kualitas kerja dan pelayanan prima.
Padahal semestinya guna perbaikan nasib bangsa dan negara ke depan. Teramat dibutuhkan sebuah kejujuran untuk mengapresiasikan kualitas seseorang bukan karena pertimbangan pikiran dan perasaan akan tetapi bagaimana jujur serta berani berdiri tegak mengatakan bahwa inilah yang pantas serta berkualitas dari berbagai aspek rasionalitas kinerja bukan karena kualifikasi tak bertanggungjawab. Sehingga yang terlihat hingga kini bangsa dan negara seakan tak percaya diri serta tak kuasa menangani berbagai persoalan kebangsaan yang begitu pelik seperti KKN dan lainnya yang merajalela di mana-mana.
Panjang, lebar serta dalamnya kompleksitas fenomena pendidikan di tanah air sebenarnya terletak pada seproaktif apakah? Kalangan pendidikan tanah air dalam menindaklanjuti mengsinkronkan permasalahan pendidikan di tanah air membuntuti perspektif persoalan kebangsaan yang hingga kini pelik. Perspektif Kepelikan persoalan kebangsaan saat ini telah terlihat serta terbilang merupakan mata rantai lingkaran setan penghambat kemajuan bangsa di masa akan datang. Sejauhmana sikap kalangan pendidikan baik dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah menyikapi hal ini? Sebenarnya merupakan tuntutan serta amanat kebangsaan adalah tanggungjawab bersama yang sesegera mungkin ditemukan, sehingga akan diperoleh titik temu signifikan dalam memutuskan mata rantai lingkaran setan di kalangan pendidikan yang dianggap sebagai akar permasalahan utama persoalan kegagalan bangsa saat ini lebih-lebih dimasa akan datang.
Di lain sisi pentingnya kesadaran generasi masa kini untuk lebih banyak jujur menjalani proses pendidikan mereka kapan dan dimana saja secara jujur bertanggung jawab sebagai wujud sumbangsih bagi negara dan bangsa, sebenarnya adalah harapan ke depan yang benar-benar penting diperhatikan. Secara pribadi diri saya sendiri sangat meyakini, bahwa maraknya persoalan kebangsaan saat ini akibat miskinnya sebuah kejujuran di negara ini, pada berbagai lini aktivitas hidup kapan dan dimana saja di tanah air. Kalau sudah demikian apa mau dikata. Akan tetapi yang terpenting diperhatikan saat ini mungkinnya adalah masih adakah perhatian berbabagi elemen bangsa dan negara untuk membudayakan kejujuran sekecil itu kapan dan dimana saja….?
Diakui bahwa bukan hanya dalam lingkup pendidikan semata akan tetapi semua lini aktivitas kebangsaan terlihat kejujuran menjadi barang mahal atau langka. Urusan nasionalisme, patriotistisme atau semangat kebangsaan terbangun hanya dalam semangat slogan tanpa pembuktian baik secara sederhana maupun dalam skala berkehidupan kebangsaan yang besar cakupannya.
Tulisan ini terinspirasi manakala penulis mengalami sendiri kenyataan yang ada, mengingat saat ini penulis sementara menjalani proses pendidikan lanjutan di salah satu Pendidikan Tinggi terkemuka di tanah air, bersama rekan-rekan lainnya yang boleh dibilang berumur belia serta terbilang masih hangatnya memperjuangkan masa depannya dengan dasar semangat kejujuran bukan bermodalkan kemerosotan moral akibat tidak jujur dan tidak bertanggung jawab untuk diri sendiri. Apa sih sulitnya melaksanakan kejujuran, yang sulit mungkin menurut hemat pribadi saya saat ini di kalangan generasi masa kini adalah sulit membangkitkan keinginan tulus untuk selalu berbuat jujur untuk hal sekecil apapun……MARILAH JUJUR…JUJUR DAN JUJUR SELALU UNTUK SEBUAH KEBAIKAN DAN MASA DEPAN!!!!!!