Entri Populer

Selasa, 10 April 2012

Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini

Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam Mappa (1994: 12) pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah, dibenarkan atau dikendalikan. Sementara itu Abdulhak (2000: 25) menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah, dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan.
Anak-anak usia dini dapat saja diberikan materi pelajaran, diajari membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan bukan hanya itu saja, mereka bisa saja diajari tentang sejarah, geografi, dan lain-lainnya. Jerome Bruner menyatakan, setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain (Supriadi, 2002: 40). Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain, dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak.
Supriadi (2002: 40) menjelaskan bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Menurut Conny R. Semiawan (Jalal, 2002: 16) melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Melalui permainan, anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Oleh karena itu, bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek.
Konsep Kreativitas
Supriadi (2001: 7) menyimpulkan bahwa pada intinya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Keberhasilan kreativitas menurut Amabile (Munandar, 2004: 77) adalah persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dan bekerja kreatif, dan motivasi intrinsik.
Ciri-ciri kreativitas dapat ditinjau dari dua aspek yaitu:
  1. Aspek Kognitif. Ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif//divergen (ciri-ciri aptitude) yaitu: 1) keterampilan berpikir lancar (fluency); (2) keterampilan berpikir luwes/fleksibel (flexibility); (3) keterampilan berpikir orisinal (originality); (4) keterampilan memperinci (elaboration); dan (5) keterampilan menilai (evaluation). Makin kreatif seseorang, ciri-ciri tersebut makin dimiliki. (Williams dalam Munandar, 1999: 88)
  2. Aspek Afektif. Ciri-ciri kreativitas yang lebih berkaitan dengan sikap dan perasaan seseorang (ciri-ciri non-aptitude) yaitu: (a) rasa ingin tahu; (b) bersifat imajinatif/fantasi; (c) merasa tertantang oleh kemajemukan; (d) sifat berani mengambil resiko; (e) sifat menghargai; (f) percaya diri; (g) keterbukaan terhadap pengalaman baru; dan (h) menonjol dalam salah satu bidang seni (Williams & Munandar, 1999).
Torrance dalam Supriadi (Adhipura, 2001: 47) mengemukakan tentang lima bentuk interaksi guru dan siswa di kelas yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan kreatif siswa, yaitu: (1) menghormati pertanyaan yang tidak biasa; (2) menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa; (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri; (4) memberi penghargaan kepada siswa; dan (5) meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana penilaian.
Hurlock pun (1999: 11) mengemukakan beberapa faktor pendorong yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu: (1) waktu, (2) kesempatan menyendiri, (3) dorongan, (4) sarana, (5) lingkungan yang merangsang, (6) hubungan anak-orangtua yang tidak posesif, (7) cara mendidik anak, (8) kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.
Amabile (Munandar, 2004: 223) mengemukakan empat cara yang dapat mematikan kreativitas yaitu evaluasi, hadiah, persaingan/kompetisi antara anak, dan lingkungan yang membatasi. Sementara menurut Torrance dalam Arieti yaitu: (1) usaha terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi; (2) pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak; (3) terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual; (4) terlalu banyak melarang; (5) takut dan malu; (6) penekanan yang salah kaprah terhadap keterampilan verbal tertentu; dan (7) memberikan kritik yang bersifat destruktif (Adhipura, 2001: 46).
Pustaka
  • Abdulhak, I. (2000). Metodologi Pembelajaran Orang Dewasa. Bandung: Andira.
  • Adhipura, A. A. N. (2001). Pengembangan Model Layanan Bimbingan Berbasis Nilai Budaya Lokal untuk Meningkatkan Kreativitas Anak. Tesis Magister pada PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.
  • Direktorat Tenaga Teknis. (2003). Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0 – 6 Tahun. Jakarta: Ditjen PLSP – Depdiknas.
  • Hawadi, R. A. (2001). Psikologi Perkembangan Anak. Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak. Jakarta: PT Grasindo.
  • Hurlock, E.B. (1991). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
  • Jalal, F. (2002). “Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Akan Pentingnya PADU”. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. 9 – 18.
  • _______ (2003). “Perluasan Layanan Pendidikan Anak Usia Dini”. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. 9 – 18.
  • Mappa, S. & Basleman, A. (1994). Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Depdikbud.
  • Moleong, L. J. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Mulyasa, E. (2005). Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Munandar, S.C.U. (1982). Pemanduan Anak Berbakat Suatu Studi Penjajakan. Jakarta: Penerbit CV. Rajawali
  • __________ (1999). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah Petunjuk bagi Orangtua dan Guru. Jakarta: PT. Grasindo
  • __________ (2004). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta.
  • Nasution, S. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: PT. Tarsito.
  • Patmonodewo, S. (2003). Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  • Supriadi, D. (2001). Kreativitas Kebudayaan & Perkembangan Iptek. Bandung: Alfabeta.
  • __________ (2002). “Memetakan Kembali Pendekatan Pembelajaran Pendidikan Anak Dini Usia”. Buletin PADU Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia. 03. 36 – 42.

Jean Piaget

Jean Piaget dilahirkan di NeuchŸtel (Switzerland) pada tanggal 9 Agustus 1896. Dia meninggal di Geneva pada tanggal 16 September, 1980. Dia adalah anak tertua dari pasangan suami istri Arthur Piaget, seorang profesor Kesusastraan abad pertengahan dan Rebecca Jackson. Pada usia yang masih dibilang kecil pada saat itu yakni 11 tahun di NeuchŸtel Latin high school, dia menulis suatu ulasan tentang albino sparrow. Paper singkat ini mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak dan dianggap sebagai permulaan karir ilmiah yang brilian dari seseorang yang telah menulis lebih dari enam puluh buku dan beberapa ratus artikel.Piaget telah diberi gelar sebagai seorang interaktionis sekaligus sebagai seorang konstruktivis. Ketertarikannya dengan prinsip pengembangan kognisi yang diangkat dari hasil perlakuan melalui training pada ilmu alam dan konsep epistimologi telah mengangkat dirinya menjadi ilmuan sejati. Dia sangat tertarik dengan pengetahuan tentang bagaimana anak-anak hadir untuk mengetahui dunia mereka. Dia mengembangkan teori kognitif dengan betul-betul mengamati perkembangan kognisi anak-anak (beberapa di antara anak tersebut adalah anaknya sendiri). Dengan menggunakan standar pertanyaan sebagai titik awal, dia mencoba mengikuti jalan pikiran anak-anak melalui training dan membuat pertanyaan-pertanyaan yang lebih fleksibel.Piaget percaya bahwa jawaban dan komentar anak-anak yang sifatnya spontan memberikan tanda untuk memahami jalan pikiran mereka.Dia malah tidak tertarik dengan mengkaji jawaban benar-salah yang diberikan oleh anak-anak, tetapi bentuk-bentuk logika dan alasan yang digunakan dalam memberikan komentar itulah yang menjadi perhatian khusus. Setelah bertahun-tahun melakukan observasi, Piaget menyimpulkan bahwa perkembangan intelektual anak adalah hasil interaksi antara faktor bawaan sejak lahir dengan lingkungan di mana anak-anak itu berkembang. Anak-anak dapat berkembang secara konstan melalui interaksi dengan lingkungan di sekitar mereka sehingga pengetahuan dapat dibangun dan dikonstruksi kembali.Teori Piaget tentang perkembangan intelektual merupakan dasar dalam ilmu biologi. Ginn (2008) mengatakan bahwa Piaget melihat pertumbuhan kognitif sebagai suatu ekstensi dari pertumbuhan biologis dan diolah melalui prinsip-prinsip dan hukum yang sama. Piaget juga memandang bahwa perkembangan intelektual mengontrol setiap perkembangan aspek lain seperti emosi, sosial, dan moral.Pandangan Jean Piaget tentang Pengembangan IntelektualUntuk dapat memahami bagaimana pandangan Piaget tentang pengembangan intektual, berikut ini akan dijelaskan dua kategori (1), tahapan-tahapan perkembangan intelektual dan (2) bagaimana cara anak itu belajar mengkonstruksi pengetahuan.
  1. Tahapan-tahapan Perkembangan IntelektualPiaget telah terkenal dengan teorinya mengenai tahapan dalam perkembangan kognisi. Piaget menemukan bahwa anak-anak berpikir dan beralasan secara berbeda pada periode yang berbeda dalam kehidupan mereka. Dia percaya bahwa semua anak secara kualitatif melewati empat tahap perkembangan seperti umur 0 - 2 tahun adalah tahapan pengembangan sensory-motor stage, tahap perkembangan sensori motor, umur 2 sampai 7 tahun adalah tahapan preoperational stage, umur 7 - 11 tahun adalah tahap concrete operation (Marxists, Setiap tahap mempunyai tugas kognitif yang harus diselesaikan. Pada tahap sensori motor, susunan mental anak hanya dapat menerima dan menguasai objek yang kongkrit. Penguasaan terhadap simbol terjagi hingga anak itu berada pada tingkat preoperational. Sedangkan pada tahap konkrit, anak-anak belajar menguasai pengelompokkan, hubungan, angka-angka, dan alasan dari mana semuanya itu diperoleh. Tahap terakhir adalah tahap penguasaan pikiran (Evans, 1973).
  2. Bagaimana Anak itu BelajarSuatu komponen terpenting dalam teori perkembangan intektual Piaget adalah melibatkan partisipasi murid. Artinya bagaimana murid mempelajari sesuatu sekaligus mengalami sesuatu yang dipelajari tersebut melalui lingkungan. Pengetahuan bukan semata-mata berarti memindahkan secara verbal, melainkan harus dikonstruksi dan bahkan direkonstruksi oleh murid. Piaget menyatakan bahwa anak-anak yang ingin mengetahui dan mengkonstruksi pengetahuan tentang objek di dunia, mereka mengalami dan melakukan tindakan tentang objek yang diketahuinya dan mengkonstruksi objek itu berdasarkan pemahaman mereka. Karena pengertian mereka terhadap objek itu dapat mengatur realitas dan tindakan mereka. Murid harus aktif, dalam pengertian bahwa murid bukanlah suatu bejana yang harus diisi penuh dengan fakta. Pendekatan belajar Piaget merupakan pendekatan kesiapan. Pendekatan kesiapan dalam psikologi perkembangan menekankan bahwa anak-anak tidak dapat belajar sesuatu sampai kematangan memberikan kepada mereka prasyarat-prasyarat.
Kemampuan untuk mempelajari konten kognisi selalu berhubungan dengan tahapan dalam perkembangan intelektual mereka. Dengan demikian, anak yang berada pada tahapan dan kelompok umur tertentu tidak dapat diajarkan materi pelajaran yang lebih tinggi dari pada kemampuan umur anak itu sendiri. Pertumbuhan intelektual melibatkan tiga proses fundamental; asimilasi, akomodasi, dan aquilibrasi (penyeimbangan). Asimilasi melibatkan penggabungan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.Akomodasi berarti perubahan struktur pengetahuan yang sudah ada sebelumnya untuk mengakomodasi hadirnya informasi baru. Penyatuan dua proses asimilasi dan akomodasi inilah yang membuat anak dapat membentuk schema. Seperti yang dipahami dalam teori schema, istilah schema (tunggal) merujuk pada representasi pengetahuan umum. Sedangkan jamaknya schemata tertanam dalam suatu komponen atau ciri ke komponen lain pada tingkat abstraksi yang berbeda. Hubungannya lebih mendekati kemiripan dalam web dari pada hubungan hirarki. Artinya, setiap satu komponen dihubungkan dengan komponen-komponen lainLebih jauh, yang dimaksud dengan equilibration adalah keseimbangan antara pribadi seseorang dengan lingkungannya atau antara asimilasi dan akomodasi. Ketika seorang anak melakukan pengalaman baru, ketidakseimbangan hampir mengiringi anak itu sampai dia mampu melakukan asimilasi atau akomodasi terhadap informasi baru yang pada akhirnya mampu mencapai keseimbangan (equilibrium). Ada beberapa macam equilibrium antara asimilasi dan akomodasi yang berbeda menurut tingkat perkembangan dan perbagai persoalan yang diselesaikan. Bagi Piaget, equilibrasi adalah faktor utama dalam menjelaskan mengapa beberapa anak inteligensi logisnya berkembang lebih cepat dari pada anak yang lainnya

JUJUR DI BANGKU PENDIDIKAN, MODAL MASA DEPAN

Seiring perkembangan jaman tak dapat disangkali kenyataan membuktikan bahwa telah terjadi pula kemerosotan moral dalam memaknai kejujuran di berbagai aspek kehidupan terlebih lagi pada basis peletak dasar pembentukan moral yakni aspek pendidikan. Sehingga muncul pula semacam stigma khusus yang menjalar kian cepatnya, yakni terkait sulitnya melahirkan pendidikan berkualitas di negeri ini. Pengalaman membuktikan bahwa jujur pada diri sendiri di kalangan generasi muda bangsa masa kini terhadap sejauhmana kemampuan pribadinya, menghasilkan sesuatu yang berkualitas bagi dirinya dan bangsa bukan kepalsuan atau tembaga tersepuh emas, dianggap menjadi sesuatu yang mahal dan langka. Sedang sangat diharapkan dari proses pendidikan sebenarnya adalah rangkaian proses menghadirkan dan membangun kemandirian bukan proses menghadirkan dan membangun pribadi yang tak mampu mandiri dengan sejumlah mental tak terpuji yakni dengan sejumlah contekan dan selembaran kecil kertas yang terancang khusus untuk menolong dirinya menyelesaikan soal-soal yang diberikan baginya dalam sebuah ujian pada jenjang pendidikan apapun. Muncul pertanyaan apakah ini? yang diharapkan dari generasi masa kini untuk menjadi kader/kader dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa? Hal ini patut digaris bawahi oleh kalangan pendidik dan para pemerhati baik dari pendidikan terendah hingga pendidikan tertinggi sekalipun.
Penting pula diketahui bahwa tradisi tak terpuji yang terlahir dari pendidikan dasar dan terbawa hingga pada jenjang pendidikan tinggi tersebut, sangat-sangatlah mencemaskan nasib generasi penerus cita-cita bangsa dimasa akan datang, mengapa secara lantang boleh saya katakan demikian, karena berbagai kenyataan membuktikan bahwa perbuatan tak terpuji yang kecil seperti dimaksud terlihat dapat saja menjadi bom waktu di masa akan datang terkait tindakan menghancurkan bangsa ini secara perlahan untuk persoalan kualifikasi tak seimbang dengan bukti otententik bobot selembar bukti kelulusan sebagai kertas tertulis tak mampu terbuktikan. Hal ini tercipta karena ketidakmampuan kalangan pendidikan tanah air untuk berani berbenah diri memecahkan persoalan ini dengan metode dan pola-pola pendidikan akurat bertanggungjawab untuk menghasilkan generasi terdidik di negara ini, yang benar-benar mandiri dan percaya pada kemampuan dan kualitas dirinya sehingga mampu serta siap berkompetisi dalam menciptakan sesuatu yang berkualitas bagi bangsa dan negara dikemudian hari.
Kalau demikian muncul pertanyaan kapankah negara kita bisa mandiri sedang di balik semua harapan masih banyak kenyataan aktivitas tak terpuji dimaksud masih menjadi virus tak terdeteksi dari ouput pendidikan masa kini, padahal tidak seharusnya hadir dan bahkan menjamur dengan begitu meluas. Selembar ijazah sebagai Bukti kelulusan saat ini hanyalah bahan pegangan dalam menghadirkan sebuah masa depan menjanjikan, yang pada kenyataannya setelah tiba dalam dunia kerja kelak hal seperti dimaksud sangat tidak diharapkan. Yang sangat diharapkan sebenarnya adalah bagaimana kemampuan secara personal dalam mengembangkan diri secara professional dan bertanggungjawab untuk sebuah beban kerja teremban di pundaknya, bukan sekedar asal ada bentuknya atau asal jadi tanpa bobot tertentu guna kontribusi bagi kemajuan bangsa. Kenyataan ini yang mungkinnya dalam kacamata pribadi saya sebagai pribadi yang sementara dalam proses menjalani pendidikan lanjut dan sudah bekerja pada salah satu institusi pemerintah, merasa kondisi ini menampakkan sesuatu yang dapat saja memposisikan negara dan bangsa untuk sulit keluar dari kemerosotan moral bangsa, lebih-lebih moralitas dalam bekerja. Sehingga tak dapat dipungkiri jika banyak penyimpangan karena kurangnya professional oknum atau pribadi yang dipercayakan untuk melaksanakan tugas dimaksud yang adalah akibat bawaan semasa pendidikannya. Yang pada gilirannya banyak generasi masa kini kelak dalam mengabdikan dirinya bagi bangsa dan negara bukan untuk sebuah ketulusan pengabdian akan tetapi kemerosotan moral semasa pendidikannya yang lebih bahkan kondisi dimaksud lebih menjadi-jadi untuk melakukan hal-hal tidak terpuji dalam skala yang lebih besar lagi. Sehingga kerugian bagi negara di sana-sini terjadi dan sulit dibendung lagi. Padahal menurut hemat saya titik kunci atau akar permasalahannya hanya pada bagaimana pendidikan memposisikan eksistensinya secara tetap dan terarah, sehingga mampu menciptakan kader-kader penerus cita-cita perjuangan bangsa bertanggung jawab dan jujur bukan sekedar memikul gelar tanpa punya kualitas, kalaupun punya kualitas, kualitas dimaksud hanya sekedar slogan terpampang di bibir, tapi lain di hati, dengan kata lain terselubung hal-hal yang sebenarnya dapat merugikan bangsa dan negara kini dan masa akan datang, alias bermotivasikan sesuatu yang tidak bermuara pada unjuk kualitas kerja dan pelayanan prima.
Padahal semestinya guna perbaikan nasib bangsa dan negara ke depan. Teramat dibutuhkan sebuah kejujuran untuk mengapresiasikan kualitas seseorang bukan karena pertimbangan pikiran dan perasaan akan tetapi bagaimana jujur serta berani berdiri tegak mengatakan bahwa inilah yang pantas serta berkualitas dari berbagai aspek rasionalitas kinerja bukan karena kualifikasi tak bertanggungjawab. Sehingga yang terlihat hingga kini bangsa dan negara seakan tak percaya diri serta tak kuasa menangani berbagai persoalan kebangsaan yang begitu pelik seperti KKN dan lainnya yang merajalela di mana-mana.
Panjang, lebar serta dalamnya kompleksitas fenomena pendidikan di tanah air sebenarnya terletak pada seproaktif apakah? Kalangan pendidikan tanah air dalam menindaklanjuti mengsinkronkan permasalahan pendidikan di tanah air membuntuti perspektif persoalan kebangsaan yang hingga kini pelik. Perspektif Kepelikan persoalan kebangsaan saat ini telah terlihat serta terbilang merupakan mata rantai lingkaran setan penghambat kemajuan bangsa di masa akan datang. Sejauhmana sikap kalangan pendidikan baik dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah menyikapi hal ini? Sebenarnya merupakan tuntutan serta amanat kebangsaan adalah tanggungjawab bersama yang sesegera mungkin ditemukan, sehingga akan diperoleh titik temu signifikan dalam memutuskan mata rantai lingkaran setan di kalangan pendidikan yang dianggap sebagai akar permasalahan utama persoalan kegagalan bangsa saat ini lebih-lebih dimasa akan datang.
Di lain sisi pentingnya kesadaran generasi masa kini untuk lebih banyak jujur menjalani proses pendidikan mereka kapan dan dimana saja secara jujur bertanggung jawab sebagai wujud sumbangsih bagi negara dan bangsa, sebenarnya adalah harapan ke depan yang benar-benar penting diperhatikan. Secara pribadi diri saya sendiri sangat meyakini, bahwa maraknya persoalan kebangsaan saat ini akibat miskinnya sebuah kejujuran di negara ini, pada berbagai lini aktivitas hidup kapan dan dimana saja di tanah air. Kalau sudah demikian apa mau dikata. Akan tetapi yang terpenting diperhatikan saat ini mungkinnya adalah masih adakah perhatian berbabagi elemen bangsa dan negara untuk membudayakan kejujuran sekecil itu kapan dan dimana saja….?
Diakui bahwa bukan hanya dalam lingkup pendidikan semata akan tetapi semua lini aktivitas kebangsaan terlihat kejujuran menjadi barang mahal atau langka. Urusan nasionalisme, patriotistisme atau semangat kebangsaan terbangun hanya dalam semangat slogan tanpa pembuktian baik secara sederhana maupun dalam skala berkehidupan kebangsaan yang besar cakupannya.
Tulisan ini terinspirasi manakala penulis mengalami sendiri kenyataan yang ada, mengingat saat ini penulis sementara menjalani proses pendidikan lanjutan di salah satu Pendidikan Tinggi terkemuka di tanah air, bersama rekan-rekan lainnya yang boleh dibilang berumur belia serta terbilang masih hangatnya memperjuangkan masa depannya dengan dasar semangat kejujuran bukan bermodalkan kemerosotan moral akibat tidak jujur dan tidak bertanggung jawab untuk diri sendiri. Apa sih sulitnya melaksanakan kejujuran, yang sulit mungkin menurut hemat pribadi saya saat ini di kalangan generasi masa kini adalah sulit membangkitkan keinginan tulus untuk selalu berbuat jujur untuk hal sekecil apapun……MARILAH JUJUR…JUJUR DAN JUJUR SELALU UNTUK SEBUAH KEBAIKAN DAN MASA DEPAN!!!!!!

Eksplorasi, Elaborasi dan Konfirmasi !

Saat ini guru dianjurkan untuk membuat RPP dan silabus yang menggunakan fase-fase eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Fase-fase ini berdasarkan Permendiknas No 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Pembelajaran. Namun belum banyak yang memahami, oleh karena itu posting berikut ini disajikan sedikit pengertian tentang eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi yang dilengkapi dengan beberapa contoh RPP.
Eksplorasi
Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary). Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif.

Pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini secara empirik telah melahirkan disiplin baru pada proses belajar. Tidak hanya berfokus pada apa yang dapat siswa temukan, namun sampai pada bagaimana cara mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Istilah yang populer untuk menggambarkan kegiatan ini ialah “explorative learning”. Konsep ini mengingatkan kita pada pernyataan Lao Tsu, seorang filosof China yang menyatakan “I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.”
Jaringan komputer pada saat ini telah dikembangkan menjadi media yang efektif sebagai penunjang efektifitas pelaksanaan pembelajaran eksploratif. Salah satu model yang dikembangkan oleh Heimo adalah Architecture of Integrated Information System sebagai model terintegrasi yang menggambarkan kompleksnya proses pembelajaran yang efektif dan interaktif.
Pendekatan belajar yang eksploratif tidak hanya berfokus pada bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi, namun harus diimbangi dengan peningkatan mutu materi ajar. Informasi tidak hanya disusun oleh guru. Perlu ada keterlibatan siswa untuk memperluas, memperdalam, atau menyusun informasi atas inisiatifnya. Dalam hal ini siswa menyusun dan memvalidasi informasi sebagai input bagi kegiatan belajar (Heimo H. Adelsberger, 2000).
Peta Konsep yang dikembangkan oleh Laurillard (2002) dalam tulisan Heimo menunjukan kompleksitas kegiatan eksplorasi dalam proses pembelajaran yang mengharuskan adanya proses dialog yang (1) interaktif (2) adaptif, interaktif dan reflektif (3) menggambarkan tingkat-tingkat penguasaan pokok bahasan (4) menggambarkan level kegiatan yang berkaitan dengan meningkatkan keterampilan menyelesaikan tugas sehingga memeperoleh pengalaman yang bermakna. Ada pun konsep tersebut dapat disajikan seperti diagram di bawah ini :
Pendekatan eksploratif berkembang sebagai pendekatan pembelajaran dalam bidang lingkungan atau sains. Sylvia Luretta dari Fakultas Pendidikan Queensland misalnya, mengintegrasikan pendekatan ini dengan lima faktor yang menyebabkan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna, yaitu belajar aktif, belajar konstruktif, belajar intens, belajar otentik, dan kolaboratif yang menegaskan pernyataan bahwa pembelajaran eksploratif lebih menekankan pada pengalaman belajar daripada pada materi pelajaran.
Dari pengalaman menggunakan model kooperatif dan kolaboratif dalam praktek pembelajaran pengelolaan kelas ternyata mampu meningkatkan kinerja belajar siswa dalam melakukan langkah-langkah eksploratif.
Model pembelajaran ini dapat dikembangkan melalui bentuk pertanyaan. Seperti yang dikatakan oleh Socrates bahwa pertanyaan yang baik dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan lebih mendalam.
Eksplorasi merupakan proses kerja dalam memfasilitasi proses belajar siswa dari tidak tahu menjadi tahu. Siswa menghubungkan pikiran yang terdahulu dengan pengalaman belajarnya. Mereka menggambarkan pemahaman yang mendalam untuk memberikan respon yang mendalam juga. Bagaimana membedakan peran masing-masing dalam kegiatan belajar bersama. Mereka melakukan pembagian tugas seperti dalam tugas merekam, mencari informasi melalui internet serta memberikan respon kreatif dalam berdialog.
Di samping itu siswa menindaklanjuti penelusuran informasi dengan membandingkan hasil telaah. Secara kolektif, mereka juga dapat mengembangkan hasil penelusuran informasi dalam bentuk grafik, tabel, diagram serta mempresentasikan gagasan yang dimiliki.
Pelaksanaan kegiatan eksplorasi dapat dilakukan melalui kerja sama dalam kelompok kecil. Bersama teman sekelompoknya siswa menelusuri informasi yang mereka butuhkan, merumuskan masalah dalam kehidupan nyata, berpikir kritis untuk menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan yang nyata dan bermakna.
Melalui kegiatan eksplorasi siswa dapat mengembangkan pengalaman belajar, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan serta menerapkannya untuk menjawab fenomena yang ada. Siswa juga dapat mengeksploitasi informasi untuk memperoleh manfaat tertentu sebagai produk belajar.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis eksplorasi : (1) Melibatkan peserta didik mencari informasi (topik tertentu), (2) Menggunakan beragam pendekatan ,media dan sumber belajar,(3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis konfirmasi : (1) Guru memberi umpan balik positip terhadap hasi belajar anak didik,(2) Guru memberi konfirmasi hasil eksplorasi peserta didik, (3) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksi pengalaman belajarnya
Elaborasi
Kognitivisme memiliki beberapa cabang ilmu, di antaranya teori asimilasi, atribusi, pertunjukkan komponen, elaborasi, mental model, dan pengembangan kognitif. Teori elaborasi adalah teori mengenai desain pembelajaran dengan dasar argumen bahwa pelajaran harus diorganisasikan dari materi yang sederhana menuju pada harapan yang kompleks dengan mengembangkan pemahaman pada konteks yang lebih bermakna sehingga berkembang menjadi ide-ide yang terintegrasi. Pengertian ini dirumuskan Charles Reigeluth dari Indiana University dan koleganya pada tahun 1970-an. Konsep ini memiliki tiga kata kunci yang fokus pada urutan elaborasi konsep, elaborasi teori, dan penyederhanaan kondisi.
Pembelajaran dimulai dari konsep sederhana dan pekerjaan yang mudah. Bagaimana mengajarkan secara menyeluruh dan mendalam, serta menerapkan prinsip agar menjadi lebih detil. Prinsipnya harus menggunakan topik dengan pendekatan spiral. Sejumlah konsep dan tahapan belajar harus dibagi dalam “episode belajar”. Selanjutnya siswa memilih konsep, prinsip, atau versi pekerjaan yang dielaborasi atau dipelajari.
Pendekatan elaborasi berkembang sejalan dengan tumbuhnya perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa sebagai kebutuhan baru dalam menerapkan langkah-langkah pembelajaran. Dari pikiran Reigeluth lahirlah desain yang bertujuan membantu penyeleksian dan pengurutan materi yang dapat meningkatkan pecapaian tujuan. Para pendukung teori ini juga menekankan pentingnya fungsi-fungsi motivator, analogi, ringkasan, dan sintesis yang membantu meningkatkan efektivitas belajar. Teori ini pun memberikan perhatian pada aspek kognitif yang kompleks dan pembelajaran psikomotor. Ide dasarnya adalah siswa perlu mengembangkan makna kontekstual dalam urutan pengetahuan dan keterampilan yang berasimilasi.
Menurut Reigeluth (1999), teori elaborasi mengandung beberapa nilai lebih, seperti di bawah ini.
• Terdapat urutan instruksi yang mencakup keseluruhan sehingga memungkinkan untuk meningkatkan motivasi dan kebermaknaan.
• Memberi kemungkinan kepada pelajar untuk mengarungi berbagai hal dan memutuskan urutan proses belajar sesuai dengan keinginannya.
• Memfasilitasi pelajar dalam mengembangkan proses pembelajaran dengan cepat.
• Mengintegrasikan berbagai variabel pendekatan sesuai dengan desain teori.
Teori elaborasi mengajukan tujuh komponen strategi yang utama, (1) urutan elaborasi (2) urutan prasyarat belajar (3) ringkasan (4) sintesis (5) analogi (6) strategi kognitif, dan (7) kontrol terhadap siswa. Komponen terpenting yang melandasi semua itu adalah perhatian.
Semua stratregi itu harus berlandaskan pada materi dalam bentuk konsep, prosedur, dan prinsip. Hal itu terkait erat dengan proses elaborasi yang berkelanjutan, melibatkan siswa dalam pengembangan ide atau keterampilan dalam aplikasi praktis. Strategi ini memungkinkan siswa untuk menambahkan sendiri ide dalam menguatkan pengetahuannya. Contoh yang tepat untuk ini adalah peserta didik yang memiliki daftar contoh konsep atau sifat yang dapat bermanfaat.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis Elaborasi : (1) Membiasakan peserta didik untuk membaca dan menulis yang beragam melalui tugas tertentu,(3) Memfasilitasi peserta didik untuk memunculkan gagasan baru melalui pemberian tugas, (4) Memberi kesemptan siswa untuk berpikir,menganalisa,menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut.,(5) kooperatif,(6) berkompetisi secara sehat, (7) Membuat laporan.
Konfirmasi
Kebenaran ilmu pengetahuan itu relatif. Sesuatu yang saat ini dianggap benar bisa berubah jika kemudian ditemukan fakta baru yang bertentangan dengan konsep tersebut. Oleh karena itu, sikap keilmuan selalu terbuka dalam memperbaiki pengetahuan sebelumnya berdasarkan penemuan terbaru. Sikap berpikir kritis dan terbuka seperti itu telah membangun sikap berpikir yang apriori, yaitu tidak meyakini sepenuhnya yang benar saat ini mutlak benar atau yang salah mutlak salah. Semua dapat berubah.
Cara berpikir seperti itu tercermin dalam istilah mental model yang mendeskripsikan sikap berpikir seseorang dan bagaimana pikirannya berproses dalam kehidupan nyata. Hal tersebut merepresentasikan proses perubahan sebagai bagian dari persepsi intuitif. Mental model itu membantu seseorang dalam mendefinisikan maupun menetapkan pendekatan untuk memecahkan masalah (wikipedia). Dengan sikap berpikir seperti itu siswa dapat mengembangkan, mengembangkan ulang, dan menggugurkan pengetahuannya jika telah menemukan kebenaran yang lain.
Mental model itu juga dapat melahirkan keraguan terhadap informasi yang diperolehnya. Untuk meningkatkan keyakinan akan kebenaran maka siswa dapat difasilitasi dalam mengembangkan model struktur sseperti pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi atau klarifikasi.
Model ini dapat dinyatakan dalam diagram seperti tertuang di bawah ini meliputi enggage, explore, explain, extend, dan berpusat pada pengembangan kemampuan mengevaluasi sebagaimana yang dikembangkan Anthony W. Lorsbach dari Universitas Illinois sebagai berikut
Saya perlu mengetahui lebih banyak mengenai……..
Saya ragu mengenai ….
Saya tidak yakin bahwa …..
Saya perlu memahami lebih dan menerapkan …….
Dalam prakteknya guru meningkatkan kemampuan ini melalui pengembangan materi. Baik mengenai hal apa yang ingin diketahui siswa lebih jauh, seperti apa tingkat pemahaman dan penguasaan yang ingin dikembangkan dan keraguan apa yang melekat dalam pemahaman tersebut.
Sikap keraguan itu perlu dijawab dengan mengkonfirmasikan terhadap unsur-unsur yang dapat meningkatkan kejelasan atas kebenaran suatu informasi. Siswa melakukan uji kesahihan apakah informasi yang dijadikan landasan kesimpulan itu benar-benar kuat.
Penguatan itu sendiri diperoleh melalui kegiatan eksplorasi melalui perluasan pengalaman, elaborasi melalui sharing dan observation, proses dan genaralisasi dan akhirnya siswa menerapkan pembelajaran yang berstandar dengan merujuk pada paradigma kognitifisme.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis konfirmasi : (1) Guru memberi umpan balik positip terhadap hasi belajar anak didik,(2) Guru memberi konfirmasi hasil eksplorasi peserta didik, (3) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksi pengalamn belajarnya.
Contoh 1.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RPP
Kelas/Semester                                :   XII / 5.
Alokasi waktu                                  :   4 x 45 menit.
Standar Kompetensi                         :   Menerapkan aturan konsep statistika dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar                            :   Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram.
Indikator                                          :
  1. Data disajikan dalam bentuk tabel.
  2. Data disajikan dalam bentuk diagram.
  1. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran diharapkan siswa dapat :
  1. Membaca dan membuat data dalam bentuk diagram dan tabel serta kegunaanya.
  2. Membaca dan membuat histogram beserta kegunaanya.
  3. Membuat poligon frekuensi dan kurva ogive beserta kegunaanya.
  1. Materi Ajar
    1. Tabel dan diagram
  1. Metode Pembelajaran
    1. Pemberian tugas.
    2. Tanya jawab.
    3. Diskusi
  1. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal (15 menit)
  1. Salam, memeriksa kesiapan siswa
  2. ………………
Apersepsi           :   Mengingat kembali mengenai penulisan data tunggal maupun kelompok, membahas PR.
Motivasi             :   Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat membaca dan membuat sajian data dalam bentuk tabel dan bentuk diagram.
  1. Kegiatan Inti
Dalam proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi ini guru melakukan
  1. Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi guru:
1. Memberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru mengenai cara membaca dan membuat data dalam bentuk tabel (daftar), cara membaca dan membuat data dalam bentuk diagram.
2    Mendiskusikan materi bersama siswa  (Buku : Bahan Ajar Matematika Pariwisata mengenai cara membaca dan membuat data dalam bentuk tabel (daftar), cara membaca dan membuat data dalam bentuk diagram.
3        Memberikan kesempatan pada peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan mengenai cara membaca dan membuat data dalam bentuk tabel (daftar), cara membaca dan membuat data dalam bentuk  diagram berhubungan dengan penyelesaian suatu soal.
4.   Melibatkan peserta didik  dalam  membahas contoh dalam Buku : Bahan Ajar Matematika Pariwisata mengenai cara membaca dan membuat data dalam bentuk tabel (daftar), cara membaca dan membuat data dalam bentuk diagram..
…………………..
  1. Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi guru:
1.  Membiasakan peserta didik membaca dan membuat data dalam bentuk tabel atau diagram.
2    Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas mengerjakan latihan soal yang ada pada buku ajar matematika pariwisata untuk dikerjakan secara individual.
c.   Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi  guru:
  1. Memberikan umpan balik pada peserta didik dengan memberi penguatan dalam bentuk lisan pada peserta didik yang telah dapat menyelesaikan tugasnya.
  2. Memberi konfirmasi pada hasil pekerjaan yang sudah dikerjakan oleh peserta didik melalui sumber buku lain.
  3. Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang sudah dilakukan
  4. Memberikan motivasi kepada peserta didi yang kurang dan belum bisa mengikuti dalam materi mengenai cara membaca dan membuat data dalam bentuk tabel (daftar), cara membaca dan membuat data dalam bentuk diagram..
  1. Kegiatan Akhir
    1. Peserta didik membuat rangkuman dari materi mengenai mengenai cara membaca dan membuat data dalam bentuk tabel (daftar), cara membaca dan membuat data dalam bentuk diagram.
    2. Peserta didik dan guru melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
    3. Peserta didik diberikan pekerjaan rumah (PR) berkaitan dengan materi mengenai cara membaca dan membuat data dalam bentuk tabel (daftar), cara membaca dan membuat data dalam bentuk diagram dari soal-soal latihan yang belum terselesaikan di kelas .
    4. Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
  1. Alat / Bahan / Sumber Belajar
    1. Buku : Bahan Ajar Matematika Pariwisata 3 tentang Statistik.
    2. Sumber lain yang relevan.
  1. PENILAIAN
Teknik                      :   Tugas individu, Kuis, Ulangan harian.
Bentuk Instrumen      :   Tertulis uraian singkat dan pilihan ganda, Lesan.
Contoh Instrumen     :
1.     Dari 210 siswa baru SMK “XX” tercatat 60 siswa memilih Program keahlian A, 70  siswa memilih Program keahlian B dan 45 siswa memilih Program keahlian C serta sisanya memilih Program keahlian D. Jika dibuat diagram lingkaran, maka juring untuk program keahlian D mempunyai sudut pusat ….
  1. 35o
  2. 60o
  3. 70o
  4. 120o
  5. 210o
2.Perhatikan data nilai suatu mata diklat berikut :
Nilai 4 5 6 7 8 9
Frekuensi 2 4 7 7 3 2
Dengan dasar data di atas, seorang siswa diwajibkan mengikuti Remidi (Perbaikan)apabila nilainya di bawah rata rata. Banyaknya siswa yang tidak mengikuti Remidi adalah ….
  1. 2 orang
  2. 5 orang
  3. 12 orang
  4. 13 orang
  5. 19 orang
3.Berikut ini adalah kurva Ogive tinggi badan 50 siswa
Dengan membaca kurva di atas , pernyataan berikut yang benar adalah ….
  1. 10 siswa tinggi badannya kurang dari 149,5 cm
  2. 10 siswa tinggi badannya sama dengan 149,5 cm
  3. 10 siswa tinggi badannya lebih dari 149,5 cm
  4. 14 siswa siswa tinggi badannya kurang dari 149,5 cm
  5. 14 siswa tinggi badannya lebih dari 149,5 cm
4.Dengan memperhatikan tabel di samping rata-ratanya adalah ….
  1. 19,4
  2. 19,5
  3. 20,0
  4. 20,5
  5. 21,0
Nilai Xi F Fxi
5 – 910 – 1415 – 1920 – 24 25 – 29 712….22 27 1397 5 736..154 135


25
5.Diagram lingkaran berikut adalah jenis ekstra kurikuler di suatu SMK yang diikuti oleh 500 siswanya. Banyaknya siswa yang tidak mengikuti ekstra paskibra adalah ….
  1. 200 siswa
  2. 250 siswa
  3. 300 siswa
  4. 350 siswa
  5. 375 siswa

Kunci Jawaban :
  1. b
  2. c
  3. a
  4. a
  5. d
Norma penilaian
Nomor 1 benar nilai 20
Nomor 2 benar nilai 20
Nomor 3 benar nilai 20
Nomor 4 benar nilai 20
Nomor 5 benar nilai 20 +
Jumlah Nilai = 100
Mengetahui
Kepala SMKN 6 Semarang                                     Guru Mata Pelajaran
Drs. H. Ahmad Ishom, M.Pd.                                Nika Dewi Indriati,S.Pd
NIP 19621219 199303 1 007                               NIP. 19760125 200212 2 003
2. Contoh  Draft   RPP Bernuansa Karakter pola EEK
Secara pribadi, saya lebih suka menggunakan istilah DRAFT untuk data berikut. Mengapa? Karena contoh-contoh bentuk kegiatan dalam tahapan eksplorasi, elaborasi masih belum  lengkap.
1. Contoh RPP Bernuansa Karakter Pola EEK SMP
RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Nama Sekolah                   :      …………………………………..
Mata Pelajaran                  :     Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas/semester                :     VII/I
Standar kompetensi          :     2.   Mendeskripsikan makna proklamasi kemerdekaan dan konstitusi pertama
Kompetensi Dasar            :     2.4. Menunjukkan sikap positif terhadap makna proklamasi  kemerdekaan dan suasana kebatinan konstitusi pertama.
Alokasi waktu                   :     4 x 40 menit (2 x pertemuan)
A. Tujuan  Pembelajaran
Setelah selesai proses pembelajaran, diharapkan siswa dapat:
1. menunjukkan sikap positif terhadap perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan;
2. menunjukkan sikap positif terhadap pentingnya kemerdekaan;
3. menunjukkan sikap positif terhadap pewarisan nilai-nilai ‘45 (semangat perjuangannya);
4. menunjukkan sikap positif dalam mengisi kemerdekaan.
v      Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines)
Kewarganegaraan ( citizenship )
B. Materi Pembelajaran
1. Sikap positif terhadap perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
2. Sikap positif terhadap pentingnya kemerdekaan.
3. Sikap positif terhadap pewarisan nilai-nilai ‘45 (semangat perjuanganya).
4. Sikap positif dalam mengisi kemerdekaan.
C. Metode
Ceramah bervariasi dan penugasan.
D. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran (Strategi Pembelajaran/Kegiatan Belajar)
1. Pertemuan I
Pendahuluan
a.   Apersepsi
Mempersiapkan kelas dalam pembelajaran (absensi, kebersihan kelas, dan lain-lain)
b.   Memotivasi
Melakukan penjajakan kesiapan belajar siswa dengan memberikan pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan.
c. Memberikan informasi tentang kompetensi yang akan dicapai.
Kegiatan Inti
1). Eksplorasi
  • Guru menjelaskan kembali secara singkat tentang perjuangan yang dilakukan para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan.
2).  Elaborasi
  • Guru memberikan tugas individual kepada siswa untuk membuat karangan dengan tema makna proklamasi bagi kehidupan masyarakat.
  • Beberapa siswa diberi kesempatan untuk membacakan karangannya, siswa lain menanggapi.
3) Konfirmasi
  • Guru memberikan klarifikasi.
  • Guru meminta beberapa siswa untuk memberikan penilaian terhadap makna kemerdekaan yang dirasakannya.
Penutup
Bersama siswa, guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dilakukan.
2. Pertemuan II
Pendahuluan
a.   Apersepsi
Mempersiapkan kelas dalam pembelajaran (absensi, kebersihan kelas, dan lain-lain)
b.   Memotivasi
Melakukan penjajakan kesiapan belajar siswa dengan memberikan pertanyaan tentang materi yang telah diajarkan.
c. Memberikan informasi tentang kompetensi yang akan dicapai.
Kegiatan  Inti
1). Eksplorasi
  • Guru menjelaskan kembali secara singkat tentang nilai-nilai ‘45 dan hubungannya dengan kehidupan masa kini.
2).  Elaborasi
  • Guru membagi siswa dalam 8 kelompok.
  • Tiap kelompok mendiskusikan pentingnya pewarisan nilai-nilai ‘45 dalam mengisi kemerdekaan.
  • Beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
  • Kelompok lain menanggapi.
3) Konfirmasi
  • Guru memberikan klarifikasi
Penutup
  1. Bersama siswa, guru menyimpulkan materi pembelajaran.
  2. Siswa mengisi kuesioner: check list (V)
E.   Sumber Pembelajaran
  • Buku teks Pendidikan Kewarganegaraan: untuk SMP dan MTs Kelas VII
  • UUD 1945
  • Buku-buku litelatur yang berisi tentang Proklamasi
  • Artikel-artikel, teks Proklamasi
F.   Penilaian
Penilaian dilaksanakan selama proses dan sesudah pembelajaran
Indikator pencapaian Teknik penilaian Bentuk Instrumen Instrumen
  • · Menerapkan  cara sikap setia kepada Proklamasi Kemerdekaan RI
  • · Memberi contoh cara menghargai para pahlawan
  • · Menunjukkan perilaku untuk meneladani sikap-sikap yang dimiliki para pahlawan
  • · Menunjukkan perilku positif  terhadap makna proklamasi kemerdekaan RI.
Penilaian diriPenilaian antar teman QuesionerLembar penilaian antar teman Petunjuk!Berilah tanda cek (V) pada kolom yang sesuai dengan pendapat kalian!
NO PERNYA-TAAN YA TDK
1 Proklamasi membawa kebe basan bagi bangsa Indonesia

2 Di negara yang merdeka setiap warga negara bebas melakukan apa saja

3 Pada saat proklamasi kemerdekaan dibacakan tanggal 17-8-1945 bangsa Indonesia belum mempunyai presiden

3 UUD 1945 petrtama kali berlaku setelah ditetapkan oleh PPKI

4 Penetapan UUD 1945 oleh PPKI melanggar UUD 1945

5


Keterangan:
Ya= sependapat dengan pernyataan  ( skor 1, jika pernyataan positif, dan skor 0 jika pernyataan negatif)
Tdk=tidak sependapat dengan pernyataan ( skor 0, jika pernyataan positif dan skor 1 jika pernyataan negatif)
Penialain perilaku melalui pengamatan  ( Instrumen terlampir ).

Mengetahui,Kepala SMP/MTs ……………(__________________________)NIP/NIK : …………………………
…..,…………………  20 …….Guru Mapel PKN(_______________________)NIP/NIK : …………………………








2. Contoh RPP Bernuansa Karakter untuk SD/MI pola EEK
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)  Tematik
Nama Sekolah      :  ……………………………
Tema                     :  Diri Sendiri
Kelas/Semester    :  II / 1
Alokasi Waktu     :  3 minggu
Standar Kompetensi :
1. PKn
  • Membiasakan hidup bergotong royong
2. IPS
  • Memahami peristiwa penting dalam keluarga secara kronologis.
3. IPA
  • Mengenal bagian –bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan, pertumbuhan hewan dan   tumbuhan serta  berbagai tempat hidup makhluk hidup.
4. Matematika
  • Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500
5. Bahasa Indonesia
Mendengarkan
  • Memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan.
Berbicara
  • Mengungkapkan pikiran, persaan, dan pengalaman secara lisan melalui kegiatan  bertanya, bercerita dan deklamasi.
Membaca
  • Memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi anak.
Menulis
  • Menulis permulaan melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte.
6. Seni Budaya  Keterampilan
  • Seni Rupa                     :  Mengapresiasi karya seni rupa.
  • Seni Tari                       :  Mengapresiasi karya seni tari
Kompetensi Dasar  :
1.   PKn
  • Mengenal pentingnya hidup rukun, saling berbagi dan tolong menolong.
2.   IPS
  • Memelihara dokumen dan koleksi  benda berharga miliknya
  • Memanfaatkan dokumen dan benda penting keluarga secara kronologis
3.   IPA
  • Mengenal bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan , di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.
  • Mengidentifikasi  cirri-ciri benda padat dan cair yang ada di lingkungan sekitar
4.   Matematika
  • Membandingkan bilangan 1 sampai 500
  • Mengurutkan bilangan sampai 500
  1. 5. Bahasa Indonesia
  • Menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek .
  • Mendeskripsikan isi puisi
  • Bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun berbahasa.
  • Mendeklamasikan puisi denga ekspresi yang tepat.
  • Menyimpulkan isi teks pendek ( 10 – 15 kalimat)
  • Menjelaskan isi puisi anak yang dibaca.
  • Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat.
  • Menulis kalimat sedrhana yang didiktekan guru dengan menggunakan huruf sambung dan memperhatikan penggunaan huruf capital, tanda titik.
6.   Seni Budaya Keterampilan.
  • Mengenal unsure rupa pada karya seni rupa
  • Menunjukkan sikap apresiatif terhadap unsure rupa pada karya seni rupa.
  • Mengidentifikasi gerak alam semesta
I.    Tujuan Pembelajaran****:
Siswa dapat  :
  • Menjelaskan arti rukun
  • Menyebutkan manfaat saling berbagi dengan teman.
  • Menunjukkan dokumen diri dan keluarga
  • Menceritakan peristiwa yang berkesan  waktu kecil tentang diri dan keluarga  melalui dokumen.
  • Menceritakan cara memelihara dokumen pribadi.
  • Menyampaikan pendapat/ komentar tentang peristiwa yang dialami teman.
  • Mengidentifikasi bagian utama tubuh hewan di sekitar rumah.
  • Mengidentifikasi bagian utama tumbuhan
  • Menjelaskan sifat benda padat
  • Menjelaskan sifat benda cair.
  • Menentukan bilangan 1 samapai 500
  • Menentukan bilangan lebih besar.
  • Menentukan bilangan lebih kecil.
  • Membandingkan dua buah bilangan dengan menggunakan symbol <, > , =.
  • Membandingkan kumpulan benda denagn menggunakan istilah lebih dari, kurang dari.
  • Menyusun bilangan dari yang terkecil ke terbesar.
  • Menyusun bilangan dari yang terbesar ke terkecil.
  • Menulis bilangan dengan benar secara urut dari 1 – 500.
  • Menyebutkan pengertian bilangan genap.
  • Menyebutkan pengertian bilangan ganjil.
  • Menjelaskan perbedaan bilangan genap dan ganjil.
  • Mengurutkan bilangan ganjil  dari 1 – 21
  • Mengurutkan bilangan genap dari 2 – 20.
  • Mendengarkan teks pendek yang dibacakan guru.
  • Menjawab pertanyaan tentang isi teks pendek yang dibacakan guru
  • Menceritakan kembali isi teks bacaan dengan bahasa sendiri.
  • Menafsirkan isi puisi dengan bahasa sendiri
  • Menjawab  pertanyaan tentang isi puisi
  • Mendeklamasikan puisi
  • Menjelaskan isi puisi
  • Memperagakan percakapn
  • Membuat percakapan.
  • Memberikan tanggapan terhadap cerita teman.
  • Mendeklamasikan puisi dengan ekspresi yang tepat.
  • Membaca teks dengan bersuara.
  • Mengajukan pertanyaan bacaan,
  • Menceritakan kembali isi bacaan.
  • Membaca puisi
  • menceritakan isi puisi..
  • Melengkapi cerita
  • Menyusun kalimat  menjadi cerita
  • Menyalin kalimat dengan mewnggunakan huruf bersambung.
  • Menuliskan kaliamt yang didikte guru dengan menggunakan huruf sambung dan memperhatikan penggunaan huruf capital dan tanda titik.
  • Menggunakan huruf capital dalam kalimat.
  • Mengelompokkan berbagai jenis bidang dan bentuk ritme keseimbangan dan kesatuan.
  • Mengelomplokkan berbbagai ukuran : bintik, garis, bidang warna, dan bentuk pada benda dua dan tiga dimensi di alam sekitar.
  • Mengungkapkan perasaan ketertarikan pada imajinatif dan berbagai unsure rupa benda di alam sekitar.
  • Memilih objek benda alam yang menarik.
  • Mengungkapkan perasaan secara lisan tentang objek imajinatif yang diamati dari berbagai unsure seni rupa dan perpaduannya pada karya seni rupa.
  • Memilih keindahan unsure rupa dan perpaduannya dan karya seni rupa.
  • Membedakan gerak angina sepoi-sepoi dengan gerak angina rebut.
  • Menunjukkan perbedaan air mengalir dengan air sedang bergelombang.
v     Karakter siswa yang diharapkan : Disiplin ( Discipline )
Tekun ( diligence )
Tanggung jawab ( responsibility )
Ketelitian ( carefulness)
Kerja sama ( Cooperation )
Toleransi ( Tolerance )
Percaya diri ( Confidence )
Keberanian ( Bravery )
II. Materi Ajar  ( Materi Pokok ) :
  • Hidup gotong royong.
  • Dokumen pribadi dan keluarga
  • Manfaat dokumen.
  • Bagian utama tumbuhan dan hewan
  • Sifat benda
  • Bilangan 1 – 500
  • Mengurutkan bilangan.
  • Mendengarkan teks pendek.
  • Deskripsi puisi.
  • Percakapan]
  • Puiai
  • Membaca teks pendek.
  • Menjelaskan isi puisi
  • Melengkapi kalimat.
  • Menulis.
  • Unsur rupa
  • Gerak alam semesta.
III. Metoda Pembelajaran :
  • Ceramah
  • Diskusi.
  • Tanya jawab.
  • Demontrasi.
  • Pemberian tugas.
IV. Langkah-langkah pembelajaran :
A.  Kegiatan awal :
Apresepsi/ Motivasi :
  • Mengisi daftar kelas , berdoa, mempersiapkan materi ajar, model, alat peraga.
  • Memperingatkan cara duduk yang baik ketika menulis, membaca.
  • Mengumpulkan tugas/ PR
B. Kegiatan inti :
Minggu ke 1
Pertemuan pertama  :  3 x 35 menit  ( Matematika, B. Indonesia )
  • Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
F     Mengamati bilangan yang ditulis di papan tulis dari bilangan 1 sampai 500.
F     Siswa membaca bilangan dengan tepat.
F     Menyimak teks pendek yang dibacakan guru.
  • Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
F     Melalui pemberian tugas siswa dapat menentukan anatara bilangan lebih besar dan lebih kecil.
F     Melakukan tanya jawab tentang isi teks pendek yang dibacakan guru.
F     Menceritakan kembali isi teks pendek dengan  bahasa sendiri.
  • Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
F     Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
F     Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan
Pertemuan ke dua   3 x 35 menit  ( Matematika, Bahasa Indonesia, IPS)
  • Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
F     Siswa dapat mendeskripsikan isi puisi dengan menafsirkannya menggunakan bahasa sendiri
  • Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
F     Membandingkan dua buah bilangan dengan menggunakan simbul <, >, =
F     Siswa dapat membandingkan dua buah bilangan dengan menggunakan istilah lebih dari dan kurang dari.
F     Siswa dapat menjawab pertanyaan tentang isi puisi yang telah dibacakan.
F     Melalui Tanya jawab siswa dapat menjelaskan tentang dokumen pribadi.
F     Menyebutkan jenis – jenis dokumen pribadi dan keluarga.
  • Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
F     Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa
F     Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan  dan penyimpulan
Peretemuan ke tiga  3 x 35 menit ( Matematika, , B Indonesia )
  • Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
F     Siswa mendeklamasikan puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat.
  • Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
F     Siswa dapat membandingkan dua  kumpulan benda dengan menggunakan istilah lebih dari  dan kurang dari.
F     Menyusun bilangan dari yang terkecil ke terbesar dengan teliti.
F     Siswa dapat menbaca kalimat percakapan dan melakukan percakapan di depan teman lainnya.
  • Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
F     Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa

PERSIAPAN UASBN

Berikut ini adalah koleksi soal ujian akhir nasional ( UAN ) untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) terbaru tahun ajaran 2011 – 2012 yang bisa didownload.
Download Soal UASBN SD Bahasa Indonesia
Download Soal UASBN SD Matematika
Download Soal UASBN SD IPA

MAU MAHIR KOMPUTER?? BISA G YA??!!!

Kayanya belajar komputer bukan lagi hal yang aneh, semakin hari pengguna komputer samakin bertambah dan tidak dapat dipungkiri bahwa alat satu ini sudah menjadi sarana belajar yang menarik untuk siswa


Sulit ga ya.. kalau belajar komputer itu ? wah.. sebetulnya tergantung dari diri kita sendiri kalau kita mau rajin belajar kayanya ga sulit tuh.. asal jangan cepet bosan, belajar komputer sebetulnya tidak seperti belajar yang umumnya.. alias tidak baku contohnya pelajaran matimatika 1 + 1 = 2 tidak mungkin kalau tahun yang akan datang 1 + 1 = 0 tapi kalau kita belajar komputer biasanya software/perangkat lunak yang bisa kita gunakan  akan di Update / diperbaharui, ko bisa!!! pada saat ini kita terbiasa menggunakan Microsoft Word 2003 semua fitur  pernah kita jelajahi dan bahkan kita sudah tidak lagi kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas yang ada..nah setelah Produk Microsof Office 2007 tiba dipasaran semuanya memperbaharui office menjadi 2007 bayangkan saja semua fitur / tampilan  berbeda dengan tampilan generasi-generasi sebelumnya, wessss ribet urusannya mau buat tabel aja kita harus berusaha untuk mencarinya dulu nah mungkin alasana yang saya lontarkan diatas tersebut belajar komputer itu tidak baku sperti pelajaran Matimatika dan pelajaran yang lainnya... walau bagaimana intinya kita jangan perlu takut untuk mencoba yang baru dan pantang menyerah apabila kita menemukan kesulitan saat belajar komputer.
Bisa kah kita lebih mahir menggunkan komputer..???

pengalaman ini sudah saya rasakan dulu ketika saya belum mengenal komputer wahh.. pekerjaan yang saya lakukan masih menggunakan secara manual, seperti menggunakan mesin tik dan kalkulator untuk alat menghitung walau bagaimana kedua alat ini sebetulnya masih tetap harus kita manfaatkan kegunaannya walau sekarang  jarang sekali admin  membuat Administrasi menggunakan mesin tik (pantang menyerah)
tipsNya kamu harus konsisten dengan niat bisa dan kudu bisa hal ini penting karna dimana ada kemauan pasti ada jalan untuk semuanyaSemuanya perlu waktu tidak semudah membalikan telapak tangan secara instan kita perlu waktu untuk menjadi bisa ( jangan cepat bosan ) , Ketika ada masalah jangan dulu bertanya sebelum masalah tersebut menjadi sumber  ilmu besar untuk kita utak atik dan jangan menyerah setelah kehabisan sumber baru kita bertanya kepada orang yang mungkin bisa di ajak bertukar pikiran bukan menjawab pertanyaan

semaua itu butuh waktu dan kerja keras untuk menjadi bisa, saya yakin suatu saat nanti sumber daya manusia di indonesia akan terdepan untuk menguasai dunia Tekhnologi Informasi dan Komunikasi!!! BISA